000 01889nam a2200253Ia 4500
005 20260922100015.0
008 260922s9999 xx 000 0 und d
020 _a978-602-424-220-6
041 _aind
082 _a923.
100 1 _aYULIARTO, Aji
245 1 0 _aYap Thiam Hien
_b: Sang Pendekar Keadilan
250 _a5
264 _aJakarta
_bKepustakaan Populer Gramedia
_c2018
300 _aix, 157 hlm.
_bilus.
_c23 cm
520 _a Sesungguhnya dia punya pilihan gampang dan menye- nangkan. Dengan gelar Meester in de Rechten dari Univer- sitas Leiden, ia tak kurang suatu apa untuk menjadi kaya raya dan sejahtera Namun, Yap Thiam Hien memilih jalan lain. Misalnya: Ketika kantor pengacara lain mengenakan tarip Rp40 juta per klien, biaya yang dikutip Yap hanya Rp5-10 juta. Tak jarang ia menggratiskan jasa kepengacaraannya. Pembelaannya memburu kebenaran, bukan sekadar kemenangan. Apa- lagi hanya merapat kepada siapa yang berani bayar atau berkuasa Maka, tukang kecap ia bela. Dalam sidang Soe- bandrio-bekas wakil pendana menteri yang sebenarnya musuh politik Yap dan didakwa terlibat kudeta 1965-ia tampil sebagai pembela. "Jika Saudara hendak menang perkara jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena kita pasti akan kalah. Tapi, jika Saudara cukup dan puas mengemukakan kebe- naran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara." Itu prinsip sang bahadur. Kisah Yap Thiam Hien merupakan jilid pertama seri "Pene gak Hukum", yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, Juni 2013, untuk memperingati 100 tahun hari lahir Yap. Menyorot sepak terjang para pen- dekar hukum
650 4 _a0
655 _aGrade 10-12
700 1 _aAgus Darmawan Setiadi
_eauthor
700 1 _aDjunaedi
_eauthor
700 1 _aEko Punto Pambudi
_eauthor
700 1 _aKendra H. Paramita
_eauthor
700 1 _aRizal Zulfadly
_eauthor
999 _c225685
_d225685