01858nam a2200241Ia 450000500170000000800410001702000220005804100080008008200090008810000180009724500470011525000060016226400480016830000310021652012040024765000060145165500160145770000340147370000210150770000300152870000310155870000270158920260922100015.0260922s9999 xx 000 0 und d a978-602-424-220-6 aind a923.1 aYULIARTO, Aji10aYap Thiam Hien b: Sang Pendekar Keadilan  a5 aJakartabKepustakaan Populer Gramediac2018 aix, 157 hlm.bilus.c23 cm a Sesungguhnya dia punya pilihan gampang dan menye- nangkan. Dengan gelar Meester in de Rechten dari Univer- sitas Leiden, ia tak kurang suatu apa untuk menjadi kaya raya dan sejahtera Namun, Yap Thiam Hien memilih jalan lain. Misalnya: Ketika kantor pengacara lain mengenakan tarip Rp40 juta per klien, biaya yang dikutip Yap hanya Rp5-10 juta. Tak jarang ia menggratiskan jasa kepengacaraannya. Pembelaannya memburu kebenaran, bukan sekadar kemenangan. Apa- lagi hanya merapat kepada siapa yang berani bayar atau berkuasa Maka, tukang kecap ia bela. Dalam sidang Soe- bandrio-bekas wakil pendana menteri yang sebenarnya musuh politik Yap dan didakwa terlibat kudeta 1965-ia tampil sebagai pembela. "Jika Saudara hendak menang perkara jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena kita pasti akan kalah. Tapi, jika Saudara cukup dan puas mengemukakan kebe- naran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara." Itu prinsip sang bahadur. Kisah Yap Thiam Hien merupakan jilid pertama seri "Pene gak Hukum", yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, Juni 2013, untuk memperingati 100 tahun hari lahir Yap. Menyorot sepak terjang para pen- dekar hukum 4a0 aGrade 10-121 aAgus Darmawan Setiadieauthor1 aDjunaedieauthor1 aEko Punto Pambudieauthor1 aKendra H. Paramitaeauthor1 aRizal Zulfadlyeauthor