SIREGAR, Merari

Si Jamin Dan Si Johan - 17 - 102 hlm. ilus. 21 cm

menceritakan sebuah keluarga yang malang nasibnya karena keterbatasan ekonomi dan kasih sayang. Jamin adalah seorang anak laki-laki berumur 9 tahun yang mengadu nasibnya sebagai peminta-minta demi menghidupi keluarga dan adiknya si Johan yang berumur 7 tahun. Ayah mereka bernama Bertes, seorang pemabuk berat yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan ibunya bernama Mina telah meninggal dunia karena terserang penyakit. Kemudian Bertes menikah dengan Inem, seorang pecandu yang buruk tingkah lakunya. Seiring dengan berjalannya waktu, kelakuan Bertes sebagai seorang ayah sangat tidak pantas karena ia tidak memiliki rasa sayang kepada kedua anaknya, menelantarkan anaknya, dan sering memukuli anaknya. Begitu pula dengan Inem yang lebih kejam karena selalu memaksa Jamin untuk meminta-minta dan harus mendapatkan uang yang cukup untuk membeli barang candunya itu. Apabila Jamin tidak mendapatkan uang, maka Jamin dipukul dan diancam yang menyangkut keselamatan dirinya dan si Johan. Suatu hari, Jamin dan Johan masih terlelap dalam tidurnya. Inem dengan kasar membangunkan Jamin untuk mengerjakan tugasnya, yaitu meminta-minta. Jamin bangun meninggalkan adiknya di rumah dan mulai menelusuri setiap sudut kota untuk mencari sekeping uang yang diminta ibu tirinya. Ia sangat lelah dan lapar. Bajunya yang tipis dan kumal itu tidak dapat menghangatkan badannya dari hawa dingin karena hari itu hujan tak kunjung reda. Sampai malam hari Jamin belum mendapatkan uang yang cukup untuk dibawa pulang. Ia ingin mengetahui keadaan Johan di rumah tetapi ia tidak berani pulang karena takut dengan ancaman dan siksaan yang diberikan oleh Inem. Udara semakin dingin dan Jamin semakin lelah, ia akhirnya pingsan di depan took Kong Sui dan Nyonya Fi. Kong Sui yang melihat kejadian itu langsung menolong Jamin dan dibawa masuk kedalam tokonya. Kong Sui memanggil istrinya untuk membantunya memberi makan, pakaian, dan sejumlah untuk Jamin. Akhirnya Jamin memberanikan diri untuk pulang ke rumahnya. Jamin mengetahui bahwa didalam celananya ada sebuah cincin milik Nyonya Fi dan ia berniat untuk mengembalikannya. Inem yang serakah memaksa Jamin untuk melepas pakaiannya dan ingin untuk dijual. Sementara Bertes ditahan polisi karena dituduh membunuh orang di café. Jamin kembali disuruh Inem meminta-minta. Di tengah jalan kota, Johan menyusul Jamin karena telah berhasil menemukan cincin Nyonya Fi dari tempat Inem menyimpannya. Ketika mereka pergi ke toko Kong Sui, sebuah trem menabrak Jamin dan menyebabkan Jamin harus dibawa ke rumah sakit karena lukanya sangat parah. Cincin itu yang mengembalikan si Johan. Nyawa Jamin tidak terselamatkan membuat Johan sangat sedih kehilangan kakaknya. Selang beberapa bulan setelah Jamin meninggal, Bertes bebas dari penjara karena terbukti tidak bersalah. Ia mendengar kabar kematian anaknya. Ia sangat sedih dan menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Inem dikabarkan tidak tinggal lagi di Taman Sari dan Kong Sui membaca kabar Berita Jakarta bahwa ada seorang perempuan yang mati lemas di tepi jalan ke Ancol. Sekarang Johan tinggal di rumah Kong Sui dan telah menyelesaikan studinya berkat pertolongan Kong Sui dan Nyonya Fi. Bertes pun bekerja dengan Kong Sui untuk memperbaiki kehidupannya sekarang.

979-407-179-X


0


Grade 7-9

813.