TISNA, A.A. Pandji

Sukreni Gadis Bali - 9 - 100 hlm. ilus. 21 cm

Men Negara adalah seorang wanita yang berasal dari Karangasem, dia adalah anak orang kaya. Ia datang ke Buleleng hanya bermodalkan pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia meninggalkan daerah itu karena suatu persoalan dengan suaminya. Pada awalnya Man Negara tinggal menumpang di rumah seorang haji yang mempunyai tanah dan kebun yang luas. Namun, karena Men Negara rajin bekerja dan hemat, ia kemudian dapat memiliki kebun sendiri. Sebenarnya, di Karangasem Man Negeri memiliki seorang anak yang ia tinggalkan. Di tempat barunya ia melahirkan dua orang anak bernama I Negeri dan Ni Negari yang berparas cantik itu dapat menarik para pekerja pemetik kelapa untuk singgal di warungya. Disamping itu, Men Negara pun pandai memasak sehingga masakannya selalu disukai oleh para pekerja itu. Di antara mereka yang datang ke warung Men Negara adalah I Gde Swamba, seorang pemilik kebun kelapa itu. I Nagari yang jatuh hati kepada I Gde Swamba berharap jika suatu saat nanti bisa menikah dengan pria itu. Suatu hari datang lah seorang pria bernama I Gusti Made Tusan dia adalah seorang menteri polisi. ia disegani dan ditakuti penduduk. Banyak sudah kejahatan yang berhasil ditumpasnya. Ini berkat kerjasamanya dengan seorang mata-mata bernama I Made Aseman. Suatu hari Men Negara ketahuan oleh I Made Aseman telah menyembelih seekor babi dan dilaporkan kepada I Gusti Made Tusan. I Made Aseman berharap kalau Man Negeri ditangkap dan di adili agar kedai iparnya dapat laku dan mengalahkan kedai Men Negara. Namun, hal itu tidak terjadi karena I Gusti Made Tusan melihat Ni Negari dan terpikat oleh tutur kata dan senyum Ni Negeri. Suatu hari datanglah seorang gadis bernama Luh Sukreni ke kedai Men Negara untuk mencari I Gde Swamba untuk urusan sengketa warisan dengan kakaknya, I Sangia yang telah masuk agama kristen. Menurut adat dan agama Bali, jika seorang anak beralih agama lain, baginya tak ada hak untuk menerima harta warisan. Kedatangan Luh Sukreni membuat Men Negara dan Ni Negari cemburu dan iri hati. Menteri polisi itu tampak tertarik pada Sukreni dan berniat menjadikan Ni Sukrenis sebagai wanita simpanannya, mengetahui hal itu Men Negara mendapatkan siasat jahat. Suatu hari ketika Luh Sukreni datang lagi Men Negara dan Ni Negari menerimanya dengan ramah, bahkan mengajaknya untuk menginap dan di terima oleh luh Sukreni. Saat itulah Men Negara menjalankan siasat jahatnya. Pada malam harinya, Luh Sukreni diperkosa oleh I Gusti Made Tusan. “Terima kasih Men Negara, atas pertolonganmu itu, hampir-hampir tak berhasil tetapi…” Begitulah I Gusti Made Tusan menyatakan kesenangannya atas siasat busuk Men Negara. Sejak kejadian itu Luh Sukreni pergi entah kemana. Namun betapa terkejutnya Men Negara ketika dia mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa Luh Sukreni itu adalah anak kandungnya. I Sudiana teman seperjalanan Luh Sukreni, mengatakan bahwa Ni Sukreni adalah anak kandung Men Negara sendiri. Ayah Ni Sukreni, I Nyoman Raka telah mengganti nama Men Widi menjadi Ni Sukreni. Perubahan nama itu dimaksudkan agar Ni Sukreni tak dapat diketahui lagi oleh ibunya. Mengetahui hal itu membuat Man Negara sangat menyesali perbuatannya. Sukreni tidak kembali ke kampungnya karena dia merasa malu dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia mengembara entah kemana. Namun, Pan Gumiarning, salah seorang sahabat ayahnya, mau menerima Ni Sukreni untuk tinggal di rumahnya. Tak lama kemudian. Ni Sukreni melahirkan seorang anak dari hasil perbuatan jahat I Gusti Made Tusan. Anak itu diberi nama I Gustam. Tidak disangka takdir mempertemukan kembali Sukreni dengan I Gde Swamba, pertemuan itu berkat pertolongan I Made Aseman yang pada waktu itu sedang menjalani hukuman di Singaraja. I Gde Swamba berjanji akan membiayai kehidupan I Gustam meski anak itu bukan anak kandungnya. I Gustam tumbuh menjadi seorang pemuda yang memiliki perangai dan tabiatkasar, bahkan dia berani memukul ibunya. Setelah dewasa, ia mencuri sampai akhirnya masuk tahanan polisi. Didalam tahanan, I Gustam justru banyak memperoleh pelajaran cara merampok dari I Sintung, salah seorang perampok dan penjahat berat yang sudah terkenal keganasannya, ahli dalam hal perampokan dan kejahatan. Setelah dirinya bebas dari penjara I Gustam membentuk sebuah kelompok dan I Sintung menjadi anak buahnya. Pada suatu malam, kelompok yang dikepalai I Gustam melaksanakan aksi perampokan di warung Men Negara. Namun rencana itu sudah diketahui oleh aparat keamanan. Perampokan di Men Negara mendapat perlawanan dari polisi yang dipimpin oleh I Gusti Made Tusan. I Gusti Made Tusan sendiri tidak mengenal bahwa musuh yang sedang dihadapinya adalah anaknya sendiri. Maka ketika I Gustam hampir putus asa karena terkena kelewang ayahnya, I Gusti Made Tusan baru mengetahui bahwa yang terbunuh itu adalah anaknya sendiri, setelah ia mendengar teriakan I Made Aseman. Akhirnya ayah dan anak itupun tersungkur dan mati. Sementara itu Men Negara berubah menjadi orang gila yang berkeliaran di kampung dan kedainya.

979-407-271-0


0


Grade 7-9

899.22