<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<mods xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" version="3.1" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-1.xsd">
  <titleInfo>
    <title>Dari Salemba ke Pulau Buru</title>
  </titleInfo>
  <name type="personal">
    <namePart>SAROSO, Kresno</namePart>
    <role>
      <roleTerm authority="marcrelator" type="text">creator</roleTerm>
    </role>
  </name>
  <name type="personal">
    <namePart>Aris Santoso</namePart>
    <role>
      <roleTerm type="text">editor</roleTerm>
    </role>
  </name>
  <typeOfResource>text</typeOfResource>
  <genre authority="">Grade 10-12</genre>
  <originInfo>
    <place>
      <placeTerm type="code" authority="marccountry">xx</placeTerm>
    </place>
    <dateIssued encoding="marc">9999</dateIssued>
    <issuance>monographic</issuance>
  </originInfo>
  <language>
    <languageTerm authority="iso639-2b" type="code">und</languageTerm>
  </language>
  <language>
    <languageTerm authority="iso639-2b" type="code">ind</languageTerm>
  </language>
  <physicalDescription>
    <form authority="marcform">print</form>
    <extent>324 hlm. 21 cm</extent>
  </physicalDescription>
  <abstract>Buku Dari Salemba ke Pulau Buru ini berisi tentang memoar seorang tapol orde baru. Dimana, pada masa mudanya penulis bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, tetapi jalan hidupnya terlalu jauh menyimpang, bukan dokter yang didapat, tetapi yang ada dikirim ke Pulau Buru. Memoar ini merupakan kesaksian dari pelakunya, Bung Kresno Saroso, saat masih menajdi mahasiswa kedokteran di FKUI, hingga "pengasingannya" di Pulau Buru.  Kekuatan buku ini justru terletak pada "status" penulisnya yang bukan seorang tokoh. Perjalanan hidup manusia memang tak terduga, tak seorangpun yang membayangkan akan dikirim ke Pulau Buru, sebuah Digul versi Orde Baru.   Nilai-nilai kemanusiaan terpancar kuat dari memoar ini. Misalnya, bagaimana upaya para tapol agar tetap survive di dalam penjara, seperti mengkonsumsi tikus hidup-hidup. Juga bagaimana, para tapol mengekspresikan rasa tertekannya, dengan membantai aparat yang congak.</abstract>
  <subject>
    <topic>0</topic>
  </subject>
  <classification authority="ddc">923.</classification>
  <identifier type="isbn">979-8933-42-7</identifier>
  <recordInfo>
    <recordCreationDate encoding="marc">260914</recordCreationDate>
    <recordChangeDate encoding="iso8601">20260914083234.0</recordChangeDate>
  </recordInfo>
</mods>
